FiqihKajian

Aqidah Imam Syafi’i

A. Aqidah Salaf

Pembicaraan seputar Aqidah selalu menghantarkan kita pada sikap dimana kita akan menempatkan diri sebagai seorang hamba. Keyakinan yang bersifat Ghoibiyat menjadi acuan apakah ia beriman atau tidak. Tapi, dalam memahami hal-hal Aqidah ini diperlukannya sebuah marja’ sehingga tidak terjatuh kedalam lubang kesesatan.

Adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dibawa oleh pemahaman sahabat juga Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in sebagai Asas dalam memahami nilai-nilai Aqidah. Hal ini selaras dengan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya dengan Jalur sanad Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu a’nhu: “Sebaik-baik kalian adalah orang-orang yang berada di Zamanku, kemudian Zaman setelahnya, kemudian setelahnya”. Bukan hanya sekedar orang terbaik, bahkan pemahaman mereka pun yang paling berhak diikuti.

Al-aimmatul Arba’ah Yaitu Imam Abu Hanifah(150H), Imam Malik bin Anas(179H), Imam Syafi’i(204H) dan Imam Ahmad bin Hanbal(241H) yang juga sebagai Aimmatus Salaf, memiliki kesamaan dalam hal Ushul meskipun berbeda dalam lingkup Ijtihadiyyah. Mereka bersepakat dalam memahami sifat-sifat Allah dengan cara itsbat ma’na bii la takyif, Kalamullah ghoiru Makhluq, dan Keimanan pun berupa pembenaran yang direalisasikan dengan Amal(bukan sekedar At-tashdiq bil lisan saja sebagaimana yang dipahami oleh Firqoh Murjiah). Mereka pula mengingkari para ahlul kalam, seperti kelompok Jahmiyyah, Mu’tazilah yang men-ta’thil Asma dan sifat Allah ataupun firqoh lainnya yang terkena dampak dari pemikiran para filsuf Yunan.

Imam Ibnu Taimiyyah menuturkan dalam Kitabul Iman: “ Namun rahmat Allah kepada Hamba-Nya menghendaki bahwa para imam yang menjadi panutan Ummat, seperti Imam Madzhab empat dan lain-lain, mereka mengingkari para ahlul kalam. Deperti kelompok Jahmiyyah dalam masalah Al-Qur’an dan tentang beriman kepada sifat-sifat Allah. Mereka sepakat seperti keyakinan para ulama salaf, dimana diantara lain, bahwa Allah itu dapat diliat di akhirat, Al-Qur’an bukan Makhluq dan Iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan.

Adapun secara khusus Aqidah Imam Syafi’i, Imam ibnu Taimiyyah sebagaimana yang dinukil dari Majmu’ al-Fatawa pernah ditanya tentang Aqidah Imam Syafi’i, beliau menjawab: “ Aqidah Imam Syafi’i dan Aqidah para ulama salaf seperti Imam Malik, Imam Ats-Tsauri, Imam Al-Auza’i, Imam ibnul Mubarak, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Ishaq bin Rahawaih adalah seperti aqidah para Imam panutan yang lain, seperti Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh, Imam Abu Sulaiman Ad-Darani, Sahl bin Abdillah As-Tusturi dan lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat dalam masalah Ushuluddin(masalah Aqidah). Begitu pula Imam Abu Hanifah, aqidah tetap beliau dalam masalah tauhid, qadar dan sebagainya adalah sama dengan Aqidah imam tersebut diatas. Dan Aqidah para Imam itu adalah sama dengan Aqidah para sahabat dan Tabi’in yaitu sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.”.

Dapat kita simpulkan bahwa pemahaman Imam Syafi’i dalam Aqidah selaras dengan pemahaman ulama salaf yang mengacu pada pemahaman Sahabat, baik itu dari pengertian Iman, Asma wa Sifat, Qadar, Kalamullah dan sebagainya.

B. Imam Syafi’i dan seputar Aqidah

Sudah maklum di kalangan para ahli sejarah, tidak ada satupun kitab yang ditulis oleh Imam Syafi’i secara rinci tentang Aqidah yang beliau anut. Yang ada ialah Atsar beliau yang dituturkan oleh murid-murid beliau seperti Imam Buwaithi, Imam Rabi’ bin Sulaiman, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Al-Humaidi, Imam Al-Muzanni. Ataupun dari pemahaman guru-guru beliau seperti Imam Malik bin Anas dengan kalamnya yang Masyhur ketika ditanya oleh seseorang tentang Kayfiyyatul Istiwa beliau menjawab tegas: “Istiwa itu sudah ma’lum (maknanya), adapun bagaimana diri-Nya beristiwa itu Majhul, dan pertanyaan tentang hal itu adalah Bid’ah!!”.

1. Iman

Pengertian Iman menurut Imam Syafi’i sebagaimana yang dikatakan oleh muridnya Rabi’, “Aku mendengar Imam Syafi’i berkata: “Iman adalah ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan Amal, bertambah dan berkurang.”

Jika riwayat ini menyatakan bahwa dia mengatakan sebagaimana yang disebutkan tentang iman, maka ada riwayat-riwayat lain yang menunjukkan bahwa beliau berdebat terkait masalah ini juga, dan menyaksikan perdebatan-perdebatan dengan yang lain sementara dia memiliki sikap tersendiri.

Dari Rabi’ bin Sulaiman bahwa dia menceritakan, seseorang dari Balkh bertanya kepada Imam Syafi’i tentang iman. Imam Syafi’i balik bertanya kepadanya: “Namun apayangengkau katakan tentang iman?” Dia menjawab, “Aku katakan iman adalah ucapan.”. Imam Syafi’i melanjutkan, “Dari mana engkau mengatakan demikian?” Dia menjawab, “Dari firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Sesunguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (Al-Baqarah: 277).

Kata bantu penghubung (dan) menjadi pemisah antara iman dan amal, maka iman adalah ucapan sedangkan amal adalah syariat-syariatnya.” Imam Syafi’i berkata, “apakah menurutmu kata bantu penghubung menurutmu sebagai pemisah?” Dia menjawab, “Ya.” Imam Syafi’ i berkata lagi, “Dengan demikian engkau menyembah dua Tuhan, Tuhan di timur dan Tuhan di barat, karena Allah berfirman:

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْن

“Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat.” (Ar-Rahman:l7).”

Orang itu marah dan berkata, “Mahasuci Allah! Apakah engkau menyatakan aku penyembah berhala?” Imam Syafi’ i menjawab, “Tapi engkau sendiri yang menyatakan seperti itu.” “Bagaimana bisa?” tanya orang itu penasaran. Imam Syafi’ i menjawab, “Lantaran engkau menyatakan bahwa kata bantu penghubung sebagai pemisah.”

Orang itu pun berkata, “Aku memohon ampun kepada Allah dari apa yang aku ucapkan, namun aku tidak menyembah selain Tuhan Yang Esa, dan aku tidak mengatakan setelah hari ini bahwa kata bantu penghubung itu pemisah, bahkan aku mengatakan bahwa iman adalah ucapan dan amal yang dapat bertambah dan berkurang.”

Rabi’ mengatakan, “Orang itu lantas menginfakkan banyak harta untuk keperluan Imam Syafi’i, mengumpulkan buku-buku Imam Syafi’i, dan keluar dari Mesir sebagai penganut Ahlu Sunnah.”

2. Sifat Allah

Adapun dalam masalah Sifat-sifat Allah, seperti yang dituturkan Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam Annubala, dari Imam Syafi’i kata beliau: “Kita menetapkan sifat-sifat Allah ini sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dan kita meniadakan Tasybih( Menyerupakan Allah dengan Makhluq) sebagaimana yang Allah juga meniadakan Tasybih di dalam Firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada satupun yang serupa dengan dia” (Asy-Syura:11).

Begitu pula dalam masalah Al-Qur’an bukanlah Makhluq, Imam Syafi’i berkeyakinan seperti ini. Ini dituturkan oleh Imam Al-Lalaka’i di dalam kitabnya Syarh Ushulul i’tiqad ahlussunnah wal Jama’ah dari Rabi’ bin Sulaiman, Imam Syafi’i berkata: “Barang siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah Makhluq maka ia telah kafir.”

3. Taqdir

Dalam masalah Taqdir Imam Syafi’i memiliki keyakinan bahwasannya Allah SWT memiliki Masyiah (kehendak) dan makhluq itu sendiri memiliki Masyiah, Masyiah makhluq berada dibawah Masyiatul Khaliq. Berbeda dengan Qadariyyah yang dianut oleh Kalangan Mu’tazilah bahwa makhluq memiliki Masyiah sedangkan Allah tidak, dan meyakini Allah tidak akan mengetahui perbuatan makhluqnya kecuali setelah makhluq tersebut melakukan sebuah perbuatan. Karena Rasulullah menyebutkan bahwa Qadariyyah adalah majusi dari umat Islam.

Imam Al-Lalaka’i meriwayatkan dari Al-Muzanni katanya Imam Syafi’i berkata: “Tahukah kamu siapa penganut paham Qadariyyah itu? Yaitu orang yang mengatakan bahwa Allah tidak pernah menciptakan sesuatu sampai hal itu dikerjakan orang.”

Juga Jabariyyah yang dianut oleh orang-orang Ghulatul Murji’ah alias Jahmiyah, bahwa Allah lah satu-satunya yang memiliki Masyiah atas makhluqnya dan sebaliknya, makhluq hanyalah alat yang diperankan Allah yang diatur sesuai takdirnya karena makhluq bagi mereka tidaklah memiliki Masyiah, makhluq itu Majbur(dipaksa) tanpa memiliki qudrah apa-apa. Dan kedua golongan ini adalah golongan yang sesat lagi haram sholat dibelakang mereka sebagai makmum.

Imam Al-Baihaqi menuturkan dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i, bahwa Imam Syafi’i mengatakan: “ Kehendak manusia itu terserah kehendak Allah. Manusia tidak berkehendak apa-apa kecuali dikehendaki oleh Allah Rabbul A’lamin. Manusia itu dapat mewujudkan perbuatan-perbuatan mereka. Perbuatan-perbuatan itu adalah salah satu makhluq Allah. Taqdir baik maupun buruk, semuanya dari Allah. Azab kubur itu Haq, pertanyaan kubur juga Haq, hisab (perhitungan amal) itu juga haq, surga dan neraka juga haq, begitu dalam Sunnah nabi SAW

C. Khatimah

Sekiranya itu sajalah yang dapat penulis terangkan tentang Aqidah bagi Imam kita, Asy-Syafi’i Rahimahullah. Yang tentu akan sangat panjang sekali jika penulis jabarkan satu-persatu segala permasalahan Aqidah ini. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan berkah kepada beliau sebagai Ulama peneramg umat. Dan semoga Allah jadikan kita sebagai hamba yang senantiasa mendapatkan hidayahnya, meniti jalan Salaful Ummah sebagai orang-orang terbaik dengan pemahaman terbaik. Aamiin

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“ Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus.Maka ikutilah!. Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.”

#fiqih #salaf #aqidah #imamsyafi’i #manhajsalaf

By: Ibn Roeswan Ar-Roeslaniy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button