MotivasiNasihat Kehidupan
Trending

Fanatisme Golongan

Fanatisme Golongan

Salah satu tugas besar yang diemban oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diawal dakwahnya yaitu memerangi fanatisme antar kabilah di tanah Hijaz. Misal saat Abu Dzar bertikai dengan salah seorang sahabat lalu ia mencela nasab ibunya. Kata Rasulullah, “Wahai Abu Dzar apakah kamu menghina ibunya? Sesungguhnya kamu masih memiliki (sifat) jahiliyyah.” HR. Bukhari.

Fenomena fanatisme antar kabilah sudah lama ada dan tumbuh di tanah arab. Bahkan dalam sebuah hadits Rasullullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada empat perkara pada umatku yang termasuk jahiliyyah yang belum ditinggalkan; berbangga dengan garis keturunan, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayit.” HR. Ahmad.

Dalam hadits lain Rasullullah juga mengingatkan, “Barang siapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau karena ingin menolong kebangsaan kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.” HR. Muslim.

Beberapa orang sering kali salah membedakan antara fanatisme mazhab dan taklid mazhab. Berbeda pula antara belajar mazhab dengan taklid mazhab.

Taklid mazhab atau ulama tertentu dibolehkan bahkan dianjurkan untuk orang awam yaitu orang islam yang tidak mempunyai kredibilitas keilmuan untuk bermuamalah langsung dengan dalil baik Al-Quran dan Hadits. Sedangkan belajar ilmu melalui metodologi bermazhab merupakan cara salaf dalam menimba ilmu untuk membangun fondasi dan metode-metode beristinbat hukum dari dalil-dalil yang ada.

Inilah yang dimaksud Abdulloh bin Wahb ketika mengatakan, “Setiap ahli hadits yang tidak mempunyai imam (guru) dalam fikih maka akan tersesat.” Kitab Magribiyah, Syaikh Abdul Aziz At-Tharifi. Abdullah bin Wahb merupakan salah satu murid senior Malik bin Anas di Madinah dan Laist bin Sa’ad di Mesir.

Dalam kitab Al-Laa mazhabiyyah karangan Syaikh Ramadhan Al-Buthi, dikisahkan diskusi beliau dengan Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Yang mana Syaikh Al-Albani termasuk yang mengkritisi banyak aktifis madzhab.

Syaikh Al-Buthi bertanya, “Anda mengatakan semua orang harus berupaya mengikuti dalil, menyeleksi pendapat-pendapat, lalu mengambil yang paling sesuai Al-Quran dan Hadits. Syaikh saya ingin bertanya, saat membaca Al-Quran apakah anda membaca dengan semua riwayat yang ada ?”

Syaikh Al-Albani menjawab, “Aku membaca hanya dengan satu riwayat, karena belum memungkinkan bagi saya mempelajari semua riwayat.”

Syaikh Al-Buthi kemudian menimpali, “Nah, bukankah sama halnya dalam mengambil pilihan fikih mazhab. Tidak semua orang mampu mempelajari fikih semua mazhab.”

Namun yang demikian bukan pokok bahasan kita kali ini.

Beberapa dekade belakangan kita dapati sebuah semangat baru dari entitas kaum muslimin yang berjuang keras untuk lepas dari fanatisme golongan. Tentu hal itu patut disyukuri sekaligus menjadi titik terang menuju persatuan umat Islam. Namun bersama itu ternyata mereka terjerumus kembali dalam fanatisme gaya baru.

Seperti sebuah ungkapan, “Saya tidak mau bermazhab.” Atau, “Saya tidak mau bergabung atau berafiliasi dengan organisasi mana pun, karena organisasi menuntut saya menjadi seorang kader militan ormas saya saja.” Atau ungkapan serupa lainnya.

Perkataan diatas lantas membawanya kepada sebuah kelaziman baru, bahwa semua orang yang ikut organisasi atau bermazhab berarti dia fanatik. Disisi lain orang tersebut berkesimpulan bahwa kelompok pengajian sayalah satu-satunya yang benar karena berdalil dengan Al-Quran dan Hadits, adapun selainnya baik yang bermazhab atau berorganisasi maka sudah menyimpang dari Al-Quran dan Sunah.

Cara pandang demikian tentu kurang tepat. Meski kita tidak juga bisa ungkiri ada dari oknum ormas yang terjerumus dalam fanatisme, sebagaimana ada sebagian pegiat mazhab yang fanatik buta terhadap mazhabnya.

Lalu apakah sebenarnya fanatisme kelompok itu tercela, boleh-boleh saja atau bahkan terpuji?

Fanatisme kelompok adalah termasuk fitrah setiap orang. Sebagaimana dalam Al-Quran disebutkan, “Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” QS. Ar-Rum: 32.

Baru dianggap tercela bila fitrah fanatik tersebut diletakkan bukan pada letaknya, terlebih bila dibumbui hawa nafsu.

Karena itu yang tampak bagi saya Islam bukan berusaha menghilangkan tabiat fanatik tersebut namun Islam mencoba mengarahkan fitrah fanatik yang ada menuju hal cita-cita yang lebih tinggi, yaitu fanatisme yang dibangun diatas kebenaran, diatas fondasi iman.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” QS. Al-Hujurat: 10.

Sama halnya terjun dan berjuang dalam organisasi, dikatakan bagus selama kita tidak menganggap organisasi tersebut sebagai sebuah ghoyah atau tujuan namun adalah sebagai wasilah atau sarana. Karena untuk mencapai cita-cita yang tinggi kita tidak mungkin bisa mewujudkannya sendirian, butuh wadah dan teman yang menyertai kita dalam usaha dan perjuangan.

Selain itu untuk keluar dari fanatisme yang tercela harus ada timbangan yang sama antar umat Islam. Timbangan untuk sebesar mungkin meminimalisir terjadinya perbedaan yang tidak bermanfaat.

“Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`ān) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” QS. An-Nisa: 59.

Dari sini kita sadar Islam menunjuki kita cara untuk lepas dari belenggu fanatisme kelompok dalam banyak ajarannya. Menuju fanatisme terhadap satu misi, satu tugas utama sebagai umat manusia yaitu bagaimana menanam benih jasa bagi agama. “Siapa yang berperang dengan maksud meninggikan kalimat Allah, maka dia sedang berjuang dijalan Allah.” HR. Bukhari.

Fenomena perpecahan umat dewasa ini terjadi salah satunya adalah karena banyak umat islam yang lebih bangga memakai nama kelompok dan golongan ketimbang memakai nama yang disebutkan dalam Al-Quran.

Seperti ungkapan, “Saya NU, saya muhammadiyah, saya salafi.” Atau ungkapan serupa lainnya, sejogyanya diganti dengan ungkapan “Saya muslim.” Sesuai titah Allah dalam Al-Quran.

“…. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur`ān) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia….” QS. Al-Hajj: 78.

Kita harus sadari setiap muslim adalah bersaudara apa pun afiliasinya. Selama dia masih muslim terlepas dari segala kekurangan yang dimiliki dia berhak atas loyalitas dari muslim lainnya. Sedang organisasi atau kelompok hanyalah sebuah wadah untuk memperjuangkan Islam dan untuk memberi manfaat yang lebih besar bagi umat.

Kita paham bersama bahwa semangat lepas dari fanatisme kelompok memang bagus apalagi menyerukan kembali kepada Al-Quran dan Sunah, namun bila metode yang digunakan tidak sesuai dengan yang ditawarkan oleh Al-Quran semangat non-fanatik itu malah akan membawa umat menuju fanatisme gaya baru dan menambah perpecahan umat. Umat perlu di sadarkan bahwa tidak ada hal yang lebih pantas diperjuangkan lebih dari agama. Kesatuan umat di atas iman merupakan salah satu cita-cita besar, menyisikan perbedaan-perbedaan yang ada.

By: Ibnu Abdillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button