MotivasiNasihat Kehidupan
Trending

Janji Allah Dalam Al-Qur’an Kepada Orang-orang Beriman

Janji Allah Dalam Al-Qur’an Kepada Orang-orang Beriman

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Allah SWT selalu memudahkan, memberi peluang pada setiap hamba-Nya terutama yang mau berbakti dan patuh kepada-Nya. Sehingga Allah SWT telah mengkhususkan atau menyediakan jaminan tertentu kepada golongan tersebut, yakni hak istimewa yang tidak akan di miliki orang lain melainkan hanya akan di dapat oleh orang-orang beriman. bahkan semua keistimewaan itu ada dalam Al-Qur’an.
Diantaranya sebagai berikut :

1.Diberi Pembelaan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُدٰفِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّا نٍ كَفُوْرٍ

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat”.
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 38)
Allah SWT memberitahukan kepada kita semua bahwa Ia akan selalu membela hambanya dari pada perbuatan-perbuatan orang-orang musyrik.

Hambanya yang bagaimana?
Yaitu hamba yang bertawakal kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya dari kejahatan-kejahatan tipu daya atau muslihat orang-orang yang durhaka pada Allah SWT.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat di dalam amanat yang dititipkan kepadanya ingkar terhadap nikmat-nikmat-Nya; mereka adalah orang-orang musyrik. Makna ayat ini ialah bahwa Allah akan mengazab mereka yang kufur nikmat.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz mengatakan ayat ini turun ketika orang beriman telah banyak di mekah sedangkan orang-orang kafir menyakiti mereka. Sehingga mereka hujrah menuju Habasyah dan sebagian orang mukmin menghendaki untuk memerangi orang kafir yang telah menipu, mengkhianati dan membunuh.

2. Mendapat Pertolongan

Baca juga : Fanatisme Golongan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ لَقَدْ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا اِلٰى قَوْمِهِمْ فَجَآءُوْهُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ فَا نْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا ۗ وَكَا نَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْن

“Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu (Muhammad) beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”.
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 47)
Mari kita fokuskan pada ayat yang kami garis bawahi, itulah sebuah jaminan istimewa yang hanya akan di dapat oleh orang-orang beriman. Dalam Tafsir Jalalain makna dari ayat :

وَكَا نَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Yaitu dengan membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang yang beriman.

Begitupula dengan sebab turunnya ayat ini adalah Allah SWT bertujuan untuk menghibur hati hamba-Nya dan juga Rasul-Nya yakni Muhammad SAW. Jika banyak dari pada umatnya yang mendustakanya agar tidak mudah mengeluh sebab itu semua telah di rasakan oleh para Rasul sebelumnya yang memiliki nasib sama, walaupun mereka telah memberikan bukti-bukti yang benar nyatanya atas kerasulannya. Dan pada akhirnya Allah SWT memberikan balasan kepada mereka yang mendustakan dan menentang Rasul-Nya. Lalu, menyalamatkan mereka yang mengimani Rasul-Nya.

Adapun dalam Tafsir Ibnu Katsir Allah SWT menolong orang-orang beriman merupakan suatu keharusan yang Ia wajibkan atas diri-Nya sendiri yang maha mulia sebagai anugrah dan karunia darinya. Semakna dengan apa yang di sebutkan oleh firman-Nya surat Al-An’am ayat : 54 :


كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ

“Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang”
Dari Ummu Darda’ dari Abu Darda’ yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulallah SAW bersabda :

ما من امرئ مسلم يرد عن عرض أخيه, إلا كان حقا على الله أن يرد عنهانار جهنم يوم القيامة

Tiada seorang muslim pun yang membela kehormatan saudaranya melainkan sudah menjadi kewajiban bagi Allah menghindarkanya dari api neraka kelak di hari kiamat”. Kemudian Nabi SAW membaca firman Allah surat Ar-Rum : 47 tersebut.

Sebuah keindahan yang hanya bisa di dapat pada saat kita percaya bahwa Allah akan menolong setiap hambanya yang senantiasa mau berbakti, percaya pada Rasul-Nya dan bertakwa padanya.

“Sebesar apapun masalah kita, setinggi apapun ujian kita, ketika kita percaya pada Allah semua akan baik-baik saja”.

3. Mendapatkan Perlindungan Kasih Sayang

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰۤــئُهُمُ الطَّا غُوْتُ ۙ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِ ۗ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّا رِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْن

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 257)
Lagi-lagi Allah akan menjadi pelindung bagi orang-orang yang beriman serta akan mengeluarkan dari kegelapan maksudnya adalah gelapnya kebodohan dan kekufuran. Yang dikemudian akan di arahkan pada cahaya hidayah yakni cahaya iman dan ilmu. Namun, menjadi sebuah keterbalikan bagi para pengengkang Allah yaitu orang kafir sebab yang menjadi pelindung mereka adalah syaitan yang akan mengarahkan pada kegelapan dan menjauhkan dari pada cahaya. Maka orang-orang kafir akan bodoh yang mengakibatkan masuk kedalam neraka selama-lamanya.

4. Ditunjukkan Pada Jalan yang benar

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّلِيَـعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهٖ فَـتُخْبِتَ لَهٗ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَهَا دِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”.
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 54)
Dalam ayat di atas sangat jelas, bahwa Allah akan memberi sebuah petunjuk yakni suatu kebenaran kepada mereka di dunia maupun di akhirat kelak. Di dunia mereka mandapatkan petunjuk suatu jalan kebenaran atau sesuatu yang hal dan menaatinya. Hal semacam itupun yang akan membantu mereka untuk menjauhi kebathilan dan yang pasti menantangnya. Kemudian di akhirat mereka akan mendapat petunjuk berupa penempuhan shiratal mustaqim yang menghantarkan mereka untuk menaiki tangga demi tangga menuju syurga dan menjauhkan mereka dari azab yang pedih yaitu jatuh ke dalam dasar neraka.

5. Berkah akan turun dari langit dan akan keluar dari bumi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)
Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz :
“kalau saja penduduk negri-negri (seluruh kota) yang kami utus para Rasul kepadanya itu mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mewaspadai dan menjauhi kekufuran dan perbuatan-perbuatan buruk, sungguhn kami akan melapangkan kebaikan dari langit kepada mereka dengan menurunkan hujan dan dari bumi dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Namun mereka mendustakan ayat-ayat yang menunjukan kepada keimanan dan mendustakan Rasul. Maka kami mengazab dan menghukum mereka akibat kekufuran dan dosa-dosa mereka”.

Tentunya jika kita memang percaya beriman kepada Allah SWT dan menjauhi maksiat sangat sudah di pastikan Allah akan memberikan keberkahan dalam hidup kita. Dari langit berupa hujan lebat yang hebat dan kemudian di lengkapi denga tumbuhan hijau dan subur yang di keluarkan dari bumi.

6. Kemenangan yang nyata

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَتَـرَى الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يُّسَا رِعُوْنَ فِيْهِمْ يَقُوْلُوْنَ نَخْشٰۤى اَنْ تُصِيْبَـنَا دَآئِرَةٌ ۗ فَعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَ بِا لْفَتْحِ اَوْ اَمْرٍ مِّنْ عِنْدِهٖ فَيُصْبِحُوْا عَلٰى مَاۤ اَسَرُّوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ نٰدِمِيْنَ ۗ

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”.
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 52)

الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ

Adapun orang-orang yang memiliki penyakit yaitu orang-orang munafik seperti Abdullah bin Ubay dan lain-lainnya yang lemah imannya, belum sampai ke tingkat yakin. Mereka itu lebih mendekatkan diri kepada orang Yahudi daripada kepada orang mukmin sendiri. Abdullah bin Ubay sebagai pemimpin orang munafik, sehari-hari lebih dekat hubungannya dengan orang Yahudi. Sedang orang-orang munafik yang lain, telah berani membuat perjanjian kerja sama, malahan lebih erat hubungan kerja samanya dengan orang-orang Yahudi. Seolah-olah mereka menggantungkan keselamatan mereka kepada orang-orang Yahudi, disebabkan ketakutan kalau-kalau orang-orang Yahudi nanti kuat dan berkuasa, mereka sendiri akan mendapat bahaya. Orang-orang munafik itu kurang yakin dengan kekuatan Nabi Muhammad saw, dan Muslimin yang akan dibantu oleh Allah dengan kemenangan dan kejayaan. Allah telah menjanjikan, bahwa setiap mukmin yang berjuang membela agama-Nya, akan dibantu dengan kekuatan dan kemenangan. Maka pada waktu itulah timbul penyesalan dari orang-orang yang ragu dan munafik dan terbukalah rahasia hatinya yang disimpannya selama ini.

7. Kebaikan selalu bersama hidupnya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَا لِحًـا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَـنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ وَلَـنَجْزِيَـنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَ حْسَنِ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya a kan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
(QS. An-Nahl 16: Ayat 97)
Menurut suatu pendapat dikatakan bahwa yang dimaksud adalah kehidupan di surga. Namun pendapat yang lain dikatakan adalah kehidupan dunia, yaitu dengan mendapatkan rasa qana`ah atau menerima apa adanya atau ia mendapatkan rezeki yang halal. Ini merupakan janji Allah yang di berikan kepada orang-orang yang mengerjakan amal sholeh, di sini tidak memiliki batas dalam artian seperti yang telah di sebutkan dalam ayat di atas berupa perempuan maupun laki-laki.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa Rasulullah saw bersabda, :

قد أفلح من أسلم و رزق كفافا و قنعه الله بما آتاه

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, dan diberi rezeki yang cukup, serta Allah memberikan rasa qona’an terhadap apa yang telah di berikan kepadanya. (Riwayat Ahmad)

وقال الإمام أحمد, عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله : “إن الله لا يظلم المؤمن حسنة يعطى بها في الدنيا (ويثب عليها في الأخرة وأما الكافر فيعطيه حسنته في الدنيا) حتى إذا أفضى إلا الأخيرة, لم تكن له حسنة يعطى بها خيرا”. انفرد بإخراجه مسلم

Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari Anas bin Malik dia bercerita : bahwa Rasulullah bersabda :”Sesungguhnya Allah tidak mendhalimi suatu kebaikan seorang mukmin yang dia berikan di dunia (dan di berikan atasnya di akhirat, sedangkan orang kafir maka ia akan di beri makan di dunia karena berbagai kebaikannya di dunia) sehingga apabila datang di alam akhirat, maka tiada satupun kebaikan yang mendatangkan kabaikan baginya”. (H.R Muslim)

Kehidupan bahagia dan sejahtera di dunia ini adalah suatu kehidupan di mana jiwa manusia memperoleh ketenangan dan kedamaian karena merasakan kelezatan iman dan kenikmatan keyakinan. Jiwanya penuh dengan kerinduan akan janji Allah, tetapi rela dan ikhlas menerima takdir. Jiwanya bebas dari perbudakan benda-benda duniawi, dan hanya tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mendapatkan limpahan cahaya dari-Nya. Namun, peril di ingat itu hanyan di peruntukan bagin mereka yang beriman, taat dan patuh pada Allah subhanahu wa ta’ala.

8. Kekuasaan di dunia dan di berikan kemapanan di segala bidang

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.
(QS. An-Nur 24: Ayat 55)

Rabi` bin Anas pernah berkata mengenai ayat ini, “Nabi Muhammad saw berada di Mekah selama sepuluh tahun menyeru orang-orang kafir Mekah kepada agama tauhid, menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya sedang orang-orang yang beriman selalu berada dalam ketakutan dan kekhawatiran. Mereka belum diperintah untuk berperang. Kemudian mereka diperintah hijrah ke Medinah. Setelah perintah itu dilaksanakan turunlah perintah untuk berperang. Mereka selalu dalam ketakutan dan kekhawatiran, tetap menyandang senjata pagi dan petang, dan mereka tetap tabah dan sabar. Kemudian datanglah seorang sahabat menemui Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah apakah untuk selama-lamanya kita harus berada dalam kekhawatiran dan kewaspadaan ini? Kapanlah akan datang waktunya kita dapat merasa aman dan bebas dari memanggul senjata?” Maka Rasulullah saw menjawab, “Kamu tidak akan lama menunggu keadaan itu. Tidak lama lagi akan tiba waktunya di mana seseorang dapat duduk di suatu pertemuan besar yang tidak ada sepucuk senjata pun terdapat dalam pertemuan itu. Lalu turunlah ayat di atas.
Ini adalah janji Allah kepada nabi Muhammad SAW dan umatnya yang senantiasa beriman kepadanya. Tidak perlu di ragukan lagi semua janji itu sudah terjadi pada zaman nabi dan sahabat, mungkin dulu mereka khawatir dan takut namun di kemudian hari Allah beri mereka kelapangan dan berkuasa di muka bumi ini. Tidak menuntut kemungkinan jika hari ini kita kaum muslimin jika patuh dan taat pada perintah tuhan, seketika itu Allah pasti akan memenangkan kita seperti pada zaman nabi dan para sahabat dulu yang bahkan saat itu Islam sangat di segani dan di takuti dunia. Bahkan bisa menguasai lebih dari seper-tiga dunia.

9. Mulia dan berjaya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَقُوْلُوْنَ لَئِنْ رَّجَعْنَاۤ اِلَى الْمَدِيْنَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْاَ عَزُّ مِنْهَا الْاَ ذَلَّ   ۗ وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلٰـكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui”.
(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 8)
Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Wabah Az-Zuhaili :
“Orang-orang munafik itu berkata : “Sungguh jika kami kembali ke Madinah dari perang melawan Bani Musthaliq, sungguh orang kuat (maksudnya adalah diri mereka sendiri meskipun mereka adalah orang-orang munafik) akan mengeluarkan orang lemah dari kota itu dan mereka manganggap bahwa diri mereka adalah orang-orang yang beriman. Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasaulullah dan orang-orang mukmin bukan milik mereka. Maknanya adalah kekuatan dan kemenangan itu hanya milik Allah dan orang-orang yang Dia beri kemuliaan yaitu orang-orang mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahui bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah dan orang-orang yang setia dengannya karena kebodohan dan kesombongan mereka yang sangat keras.

Dari Tirmidzi dan Zaid bin Arqam bahwa ada orang Baduwi yang berseteru dengan orang Anshar dalam memperebutkan air. Kemudian orang Badui itu memukul kepalanya menggunakan kayu dan mematahkannya, lalu dia mengeluh kepadaku dengan berkata : “Kalian jangan menafkahkan (harta kalian) kepada orang di sisi Rasulullah sampai mereka membersihkan diri. Ketika kembali ke Madinah, maka orang kuat akan mengusir orang lemah, orang kuat itu adalah aku dan orang lemah itu adalah Rasulullah”.
Begitu pedenya orang-orang munafik mengatakan mereka kuat dan Rasul lemah, mereka tidak tau jika kemenangan dan kejayaan itu hanya milik Allah.

وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلٰـكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan yang berhak menerima itu hanya lah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT.

10. Terjaga, sebab orang-orang kafir tak akan pernah di beri jalan untuk memusnahkannya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَّذِيْنَ يَتَرَ بَّصُوْنَ بِكُمْ ۚ فَاِ نْ كَا نَ لَـكُمْ فَتْحٌ مِّنَ اللّٰهِ قَا لُـوْۤا اَلَمْ نَـكُنْ مَّعَكُمْ ۖ وَاِ نْ كَا نَ لِلْكٰفِرِيْنَ نَصِيْبٌ ۙ قَا لُـوْۤا اَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ فَا للّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

“(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”.
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 141)

Munafik itulah julukan mereka orang-orang yang selalu mencari-cari kesempatan, menunggu kesempatan (sebuah peristiwa) untuk menenggelamkan orang-orang beriman. Tujuan mereka hanya mencari keuntungan menggunakan siasat menjijikan yang nnereka buat-buat.
Tertera dalam tafsir jalalain terkait ayat di atas
(jika kamu beroleh kemenangan) maksudnya jika orang-orang beriman meraih kemenangan atas orang-orang kafir, berikut harta rampasan (dari Allah, mereka berkata) orang-orang munafik kepadamu (“Bukankah kami bersama kamu”) baik dalam keagamaan maupun dalam berjihad? Lalu mereka diberi bagian harta rampasan itu. (Sebaliknya jika orang-orang kafir yang beroleh nasib baik) berupa kemenangan terhadapmu (mereka berkata) kepada orang-orang kafir itu: (“Bukankah kami turut berjasa memenangkanmu) padahal kalau kami mau, kami mampu pula menahan dan memusnahkanmu tetapi itu tidak kami lakukan?” (“Dan) tidakkah (kami membela kamu dari orang-orang mukmin) agar mereka tidak beroleh kemenangan, yaitu dengan mengirim berita kepadamu, membukakan rahasia dan siasat mereka, hingga jasa besar kami itu tidak dapat kamu ingkari dan lupakan?”.

فَا للّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

Maka di situlah Allah memutuskan ganjaran sekaligus hukuman kepada mereka, adapun orang-orang beriman akan mendapatkan syurga kelak di akhirat sedangkan orang-orang munafik itu akan di masukan ke dalam neraka sedalam-dalamnya. Dan yang paling utama Allah pun akan mengunci atau memberikan kepada mereka orang-orang munafik jalan buntu untuk bisa mengalahkan orang-orang mukmin dari segala cara dan siasat yang mereka buat, lalu mereka pun tidak akan pernah bisa membasmi orang-orang mukmin.

Sampai sini,
Masih ragukah?
Untuk menjadi salah satu hambanya yang beriman?
Semoga bermanfaat dan menjadi jalan bagi kita semua untuk menjadi hamba yang di cintai oleh yang maha kuasa dan mudah-mudahan kita semua menjadi salah satu hamba yang layak untuk mendapatkan hak special yang di janjikan Allah dalam Al-Qur,an.

Aamiin ya Rabbal Alamin….

Baca juga : Tulisan adalah pedang tertajam penyelamat dosa

By : Ibnu Thurab

Thuadmin

Mahasiswa S1 INTERNASIONAL UNIVERSITY OF AFRIKA Asal : Padang Cermin, Pesawaran, Lampung TTL : 30 Desember 1999

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button