MotivasiNasihat Kehidupan

Pedang Tertajam Penyelamat Dosa adalah Tulisan

Menulis adalah ladang yang paling cocok untuk kita jelajahi saat ini, selain sebagai tanda bahwa kita sesosok yang pernah ada, namun juga sebagai pedang penyelamat dari dosa.

100 bahkan hingga ratusan tahun yang akan datang, jauh setelah kita menghembuskan nafas terakhir, jauh setelah kita menjemput panggilan sang Illahi Rabbi, tulisan itu akan menjadi bukti bahwa kita pernah hidup sebelum mereka dan di kenal tanpa berjumpa. Muhammad bin Idris sering kita kenal dengan nama Syafi’i pemegang Mazhab Syafi’i lahir di daerah Gaza, Palestina pada tahun 150 Hijriyah atau 767 Masehi dan wafat pada tahun 204 Hijriyah atau 820 Masehi di Mesir, beliau wafat kurang lebih 1200 tahun yang lalu namun namanya terkenal di penjuru dunia khususnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut Mazhab Syafi’i bukan karena ketampanannya tapi karena tulisannya yang hingga sekarang di bukukan di manca negara, di baca manusia di penjuru dunia, berapa banyak kita yang sangat mengenalnya bahkan mengikuti mazhabnya, mengoleksi berbagai tulisannya dan menyebar luaskan di dalam dunia media vertual, padahal sama sekali tidak pernah melihat wajahnya. Karena tulisannya itulah yang membuat beliau terasa ada hingga saat ini, salah satu tulisan beliau adalah Kitab Ar-Risalah, kitab pertama dalam bidah usul fiqih dan tulisannya yang paling di kenal adalah Al-Umm.

Ulama kita Ustadz Abdul Somad LC MA pernah berkata ketika beliau berada di Sudan selagi menempuh pendidikan S3 di Omdorman Islamic University, saat itu di tengah-tengah pendidikannya beliau berkenan untuk mengisi sebuah acara yang di adakan oleh PPI Sudan (Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan) dan IMI IUA (Ikatan Mahasiswa Indonesia Internasional University of Africa) dengan judul Dialog Desertasi Bersama UAS. Dalam dialognya beliau berkata :” Menulislah, karena dengan menulis akan menjadi bukti bahwa kita pernah hidup di masa lalu”.

“Tulis aja dulu! jelek atau bagus itumah urusan belakangan, insyaallah pasti bermanfaat selagi hal yang baik-baik”. Ucap salah seorang penulis.

Ya, itulah sepenggal kalimat yang seharusnya ada dalam pikiran seorang penulis sebagai benteng pertahanan saat tangan dan penamu tak lagi bersama untuk bergerak.

Dunia ini sudah hampir menemui akhirnya, lalu umat yang tercemar virus Al-Wahn

(حب الدنيا و كراهية الموت)

Cinta dunia dan takut mati (Hadist panjang, liat riwayat Abu Daud no 4297 dari Tsauban)

Menjadi keuntungan bagi musuh-musuh kita untuk menghancurkan umat ini, maka dari itu kita mengajak rekan-rekan semua untuk berjuang bersama berdakwah melalui tulisan, yang tidak di beri kemampuan untuk bisa berbicara atau berdakwah di atas podium langsung, kita masih punya tangan dan pena yang bisa berbicara melalui tulisan. Throwback pada masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam terdapat seorang penyair yang sangat terkenal pada masa itu beliau adalah Hassan bin Tsabit, pemuda asal Suku Khazraj. Suatu ketika beliau di panggil Rasulullah Saw untuk datang ke masjid Nabawi untuk menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam, sesampainya di sana Hassan mengucapkan salam kepada seluruh sahabat yang ada beserta Baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam. Nabi SAW berkata, “Wahai Hassan, engkau tentu mengetahui yang telah dilakukan kaum musyrikin Makkah. Karena itu, padamkanlah semangat mereka dengan sajak-sajakmu. Sebaliknya, bangkitkanlah semangat kaum Muslimin dengan sajak-sajakmu.”

Setelah pertemuan itu Hassan hampir tak pernah absen dalam setiap medan peperangan. Dia selalu berada di sisi Rasulullah SAW. Dia tampil tepat berada di hadapan pasukan kaum musyrikin di setiap peperangan, untuk mengumandangkan sajak-sajak yang menciutkan nyali para musuh dengan karya-karyanya. Dalam artian kita harus membagi tugas dalam berdakwah, yang memiliki kemampuan untuk berbicara tempatnya adalah podium, yang memiliki kekuasaan tempatnya adalah wewenang dan kita yang tidak memiliki kemampuan di atas tempatnya adalah tempat ini (tulisan).

Menulislah kelak tulisanmu akan menjadi pedang tertajam penyelamat dosa.

Baca Juga “Muqoddimah Arbain Nawawi

Ambil pelajaran dari setiap kehidupan. Ibnu Taimiyah rahimakumullah berkata: “Siapa saja yang Allah kehendaki kebahagiaannya. Dia akan menjadikannya mengambil pelajaran dari hal-hal yang menimpa orang lain. Lalu dia menempuh jalan orang yang dikuatkan dan di tolong oleh Allah SWT dan menjauhi jalan orang yang dia telantarkan dan dia hinakan”. (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 35 hal. 388)

lalu utarakan dalam bentuk tulisan agar bisa menjadi abadi lantas setiap tulisan yang dibaca seseorang akan mengalir pahala darinya untuk kita meskipun kita telah lama mendahului mereka. Dan dengan harapan tulisan itupun akan menjadi jalan pengampunan paling kuat untuk segala dosa yang pernah kita perbuat semasa hidup.

By: Ibnu Thurab

Thuadmin

Mahasiswa S1 INTERNASIONAL UNIVERSITY OF AFRIKA Asal : Padang Cermin, Pesawaran, Lampung TTL : 30 Desember 1999

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button