Fiqih KontemporerKajian
Trending

Pengertian Fiqih Kontemporer Secara Singkat

Pengertian Fiqih Kontemporer

Seperti pada umumnya sebelum kita membahas apa itu Fiqih Kontemporer alangkah baiknya kita mengetahui masing-masing dari pada suku kata di atas sebab pada kalimat “Fiqih Kontemporer” memiliki 2 suku kata yakni : Fiqih dan Kontemporer.

Fiqih secara lughoh atau bahasa memiliki arti  :

“فهم”

dalam Bahasa Indonesia yang berarti “Paham”

أي فهم غرض المتكلم من كلامه

yaitu memahami tujuan pembicara dari apa yang di ucapkanya.

Sedangkan dalam arti secara istilah atau secara syariat adalah

“معرفة الأحكام الشريعة التي طريقها الإجتهاد”

Yang artinya mengetahui hukum-hukum syariat dengan jalan ijtihad. (Al-Waraqat fi Usul Al-Fiqh, karya Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini, w. 478 H)

Namun ada sebagian ulama yang mengartikan fiqih secara istilah adalah

العلم بالأحكام الشريعة العملية المكتسب من أدلتها التفصلية

Yang artinya : “ilmu tentang hukum-hukum syariat yang mengatur perbuatan manusia, yang mana tentang hukum-hukum tersebut dihasilkan dari dalil-dalil syariat yang terperinci”.

Kemudian untuk kata yang ke dua adalah kontemporer, kata kontemporer bukan berasal dari Bahasa arab melainkan dari Bahasa Indonesia, jika kita melihat dalam dalam kamus KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki arti :”Pada waktu yang sama; semasa; sewaktu; pada masa kini dan dewasa ini.

Sampai di sini kita bisa memahami bahwa apa arti atau maksud dari fiqih kontemporer tersebut.

Fiqih Kontemporer adalah ilmu yang menjelaskan tentang hukum-hukum syariat yang bersifat kekinian dan eksis hingga sekarang, atau bisa kita sebut pula pengembangan pemikiran fiqih pada masa kini melalu jalan ijtihad yang mana tidak melupakan hukum-hukum dasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun metode para ulama untuk berijtihad di masa kini dalam menentukan hukum yang terkait langsung dengan Al-Qur’an dan Hadist, kemudian pada hasilnya menciptakan banyak para mujtahid yang berkualitas. Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat yang paling utama yang mencontohkan metode berfikir seperti ini dan kemudian diikuti atau ditiru oleh para Imam Mazhab seperti Maliki, Syafei, hambali, Hanafi, Al-Ghozali dan masih banyak yang lainnya.

Munculnya keadaan-keadaan yang mana di haruskan berijtihad untuk menentukan hukum baru biasanya di kaitkan dengan zaman yang terus berkembang dalam kata lain suasana yang semakin modern seperti munculnya layar penangkap gambar atau biasa di sebut kamera, sebab adanya alat tersebut bisa merubah atau mempengaruhi hukum yang telah ada, contohnya seperti hukum menuduh orang lain berbuat zina, dalam hal ini seperti yang kita ketahui untuk dapat di terima tuduhannya membutuhkan saksi kuat yang telah di atur oleh Al-Qur’an yaitu 4 orang laki-laki yang baligh, berakal, adil dan muslim. Pertanyaannya terkait dengan saksi apakah di masa kini karena adanya alat yang di sebut kamera bisa menjadi barang bukti kesaksian seperti gambar atau video yang di ambil dari CCTV misalnya? Nah, yang seperti inilah yang akan di bahas dalam fiqih kontemporer, yang akhirnya menciptakan ijtihad-ijtihad baru terkait permasalahan-permasalahan masa kini.

Ruang Lingkup Fiqih Kontempore

Ruang lingkup Fiqih Kontemporer
Bagan Ruang lingkup Fiqih Kontemporer

Fiqih kontemporer sendiri memiliki beberapa ruang lingkup yang dapat di simpulakan pada beberapa aspek yang berhubunagan dengan munculnya teknologi modern dan keadaan-keadaan baru di masa kini, yaitu :

  1. Muamalah : interaksi di antara sesama manusia

( kartu kredit, uang digital, jual beli online dan lain-lain)

  • Jinayat : tindak kejahatan atau kriminal

( penjara, CCTV pada pembuktian zina dan lain-lain)

  • Thibiyah : pengobatan

( operasi plastik, euthanasia, obat asma/merokok/suntik/impus dll dalam masalah pembatal-pembatal puasa, pagar gigi atau behel dan lain-lain)

  • Siyasah : politik

( presiden perempuan, demokrasi, UUD, pancasila dasar negara dan lain-lain)

  • Munakahat : perkawinan atau pernikahan

(KB, akad nikah online atau video call, nikah beda agama dan lain lain)

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah menegaskan bahwa prisip dan dasar penetapan hukum islam adalah kemaslahatan hamba di dunia dan akhirat. Hukum islam semuanya adil, membawa rahmat, mengandung kemaslahatan dan membawa hikmah. Setiap masalah yang keluar dari keadilan menuju pada kezholiman, dari rahmat ke laknat, dari maslahat ke mafsadah (kerusakan) dan dari hikmah kepada sesuatu yang hampa tidaklah termasuk hukum islam. Hukum islam adalah keadilan Allah di antara hamba-hambanya, kasih sayang Allah kepada mahluknya, naungan Allah di atas bumi, hikmah Allah yang menunjukan kepadanya dan kebenaran Rasul secara tepat dan benar, (Ibn Qoyyim Al-Jauziyah, I’lam Al-Muwaqqi’in ‘An Rabb Al-‘alamin, juz II, Beirut; Dar Al-Fikr, 1997, hal. 14-15)

Penjelasan Singkat (kesimpulan)

Fiqih kontemporer adalah sebuah hasil ijtihad oleh para ulama terhadap permasalahan-permasalahan hukum islam yang terjadi pada masa sekarang dengan menggali sumber hukum islam berupa Al-Qur’an dan Hadist. Memegang teguh prinsip untuk menetapkan hasil ijtihad dari dasar hukum yang mengutamakan kemaslahatan umat manusia di dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat dan menjadi jalan untuk menambah wawasan bagi kita semua, amin ya robbal alamin.

baca juga yang lainnya :

Biografi Imam Syafi’i

Rezeki Seret Karena Suka Buat Maksiat

By : Ibnu Thurob

Thuadmin

Mahasiswa S1 INTERNASIONAL UNIVERSITY OF AFRIKA Asal : Padang Cermin, Pesawaran, Lampung TTL : 30 Desember 1999

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button