Doa Pilihan

PENTINGNYA DOA BAGI SEORANG MUSLIM

Pentingnya doa bagi seorang muslim

Pentingnya doa bagi seorang muslim yang beriman adalah sebagai bukti bahwa dirinya telah benar-benar beriman kepada Allah dan rasulNya, lantas mengapa demikian?

Hal itu di jelaskan oleh hadits Rasulullah SAW:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ}

Nabi saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi Allah ta’ala dari pada doa.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, imam Al-Bukhari, imam At-Tirmidzi, imam An-Nasa’i dari sahabat Abu Hurairah r.a. dengan sanad-sanad yang shahih.

Hadits Nabi SAW di atas menjelaskan bahwa doa merupakan sebuah amalan yang mulia di sisi Allah, terlebih jika seorang mukmin benar-benar mengamalkan hal terebut, maka jelas bahwa ia telah mengamalkan apa yang telah di ucapkan oleh Nabi Muhammad SAW, karena sudah sepantasnya kita sebagai seorang muslim mengikuti apa yang Nabi Muhammad SAW serukan kepada umatnya, apalagi hal tersebut berkaitan langsung dengan hubungan Rabb dengan hambanya.

Dan hadits tersebut shahih dalam sanadnya, seperti yang kita ketahui para jumhurul ulama bersepakat bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari merupakan shahih, oleh sebab itu tidak diragukan lagi bahwa doa adalah sebuah amalan yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Karena itu pentingnya doa bagi seorang muslim adalah ibarat sebuah senjata yang akan melindunginya, dan bukan hanya itu doa juga merupakan tiang agama sebagaimana sabda Nabi SAW:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ}

Nabi saw. bersabda, “Doa itu senjata orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit-langit dan bumi.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Abu Ya’la dan imam Al-Hakim dari sahabat Ali r.a.

Doa adalah murninya (otak atau pangkalnya) ibadah

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ}

Nabi saw. bersabda, “Doa adalah murninya (otak atau pangkalnya) ibadah.” Hadits shahih ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dari Anas bin Malik.

Dalam hadits tersebut Imam An-Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa doa itu murninya ibadah disebabkan karena dua hal. Pertama: doa itu wujud dari menjalankan perintah Allah yang menyuruh hambaNya untuk meminta kepada Nya. Kedua: jika ia melihat kesuksesan urusan-urusannya dari Allah swt., maka ia pun memutuskan pengharapannya kepada selain Allah, yakni ia hanya meminta kepadanya untuk hajat nya. Dari hadits di atas kita juga menyadari bahwa doa merupakan pengamalan dari ayat Al-Qur’an yaitu Q.S Al-Fatihah ayat ke-5,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”.

Lalu mengapa ayat tersebut berkaitan dengan doa? Dan bagaimana cara pengamalan dari ayat tersebut dan doa sekaligus?

Tentunya hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan bagi kita semua. Dan pada dasarnya pengertian dari kata doa merujuk pada kata دعا- يدعو- دعاء yang berasal dari bahasa arab secara bahasa ( لغة ) yang berarti memanggil, menyeru, mengundang dan berdoa. Namun secara istilah doa diartikan:

أي ابتهلت إليه بالسؤال ورغبت فيما عنده من الخير

Yaitu memohon atau berdoa dengan sungguh-sungguh atau sepenuh hati kepada Allah Ta’ala selama hal itu dalam hal kebaikan. Jika kita perhatikan ayat ke-5 dalam surah Al-fatihah merupakan sebuah kalimat atau kalamullah yang mengisyaratkan kepada kita akan sesuatu hal dasar yang sangat penting bagi kehidupan seorang muslim yaitu berupa doa, dan juga dalam ayat tersebut Allah swt mengesakan kepada kita yaitu:

  1. Allah swt menegaskan kepada kita (manusia) bahwa hanyalah kepadanya kita menyembah atau beribadah dan tidak kepada siapapun kecuali hanya kepadanya.
  2. Allah swt menegaskan bahwa hanya kepadanya kita memohon pertolongan dan tidak kepada siapapun kecuali hanya kepadanya.

Dari kedua hal ini, kita bisa mengambil hikmah atau inti dari maksud tersebut yaitu point yang pertama bahwa kita semua manusia hanya beribadah kepadanya, ini sama halnya dengan Q.S Az-Zariyat 51: Ayat 56 yang berbunyi:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Dan point yang kedua adalah kita sebagai manusia hanya memohon pertolongan kepada Allah swt, yang dimaksud “memohon pertolongan” adalah dengan berdoa kepadanya.

Dalam tafsir ayat ke-5 surah Al-fatihah oleh Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah menjelaskan tafsir dari ayat tersebut

“Yakni, kami mengkhususkan ibadah hanya untuk-Mu dan kami mengkhususkan pertolongan hanya kepada-Mu, kami tidak menyembah selain-Mu dan kami tidak meminta pertolongan selain-Mu. Dan makna secara bahasa dari ibadah adalah batas terjauh dari tunduk dan taat, sedangkan makna secara syar’i adalah sesuatu yang terkumpul di dalamnya kesempurnaan cinta, tunduk, dan takut. Penggunaan kata ganti “kami” dalam ayat ini (dari sisi kebahasaan bahasa Arab) sebagai ungkapan dari orang yang berdoa dan orang lain, dan bukan dimaksudkan sebagai penghormatan diri. Sedangkan kata ibadah didahulukan dari kata permintaan pertolongan karena ibadah merupakan wasilah/jalan untuk meminta pertolongan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang tafsir dari ayat ini (إياك نعبد) yakni: Wahai Rabb kami hanya kepada-Mu kami mengesakan dan takut, tak ada selain-Mu. (وإياك نستعين) dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dalam menjalankan ketaatan-Mu dan dalam segala urusan kami, tak ada selain-Mu. Dan diriwayatkan dari Qatadah bahwa ia berkata: Allah Ta’ala telah memerintahkan kalian agar ikhlas dalam beribadah kepada-Nya dan agar senantiasa memohon pertolongan dalam segala urusan kalian.”

Allah SWT menyuruh hambanya agar berdoa kepadanya

pentingnya doa bagi seorang muslim

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat ke 186:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”

Berikut beberapa tafsir dari ayat diatas:

  • Dalam Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia menjelaskan:

Apabila engkau -wahai Nabi- ditanya oleh hamba-hamba-Ku tentang kedekatan-Ku dan kesediaan-Ku mengabulkan doa mereka, maka sesungguhnya Aku ini dekat dengan mereka, mengetahui keadaan mereka, dan mendengar doa mereka. Jadi, mereka tidak membutuhkan perantara dan tidak perlu bersuara keras. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku dengan tulus ikhlas di dalam doanya. Maka hendaklah mereka tunduk dan patuh kepada perintah-perintah-Ku serta mempertahankan iman mereka. Karena hal itu merupakan sarana yang paling ampuh bagi terkabul nya doa mereka. Mudah-mudahan dengan begitu mereka mau mengikuti jalan yang benar dalam semua urusan mereka, baik urusan agama maupun dunia

  • Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ

(Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat)

Datang seorang lelaki kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah apakah Rabb kita dekat sehingga kita berbisik kepada-Nya atau Dia jauh sehingga kita menyeru-Nya. Nabi pun diam dan tak menjawab. Maka turunlah ayat:

(أجيب دعوة الداع).

Dan dalam hadist shahih Rasulullah bersabda: tidak ada seorang muslim pun berdoa dengan doa yang tidak terkandung di dalamnya dosa atau pemutusan silaturrahim kecuali Allah akan mengabulkannya dengan satu diantara tiga pilihan; memberikan apa yang ia pinta, menyimpan doa itu untuk di akhirat, atau menolak kejelekan yang setara dengan nilai doanya.

وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى

(dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku) Yakni dengan beriman dan meyakini bahwa apabila mereka berdoa maka akan dikabulkan.

لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

(agar mereka selalu berada dalam kebenaran) Yakni agar mendapat petunjuk.

  • Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

  1. Hasan al-Bashry berkata : “Kunci kekayaan laut adalah kapal, dan kunci kekayaan bumi adalah jalan, sedangkan kunci kekayaan langit adalah doa”.
  2. Kedekatan Allah yang disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah adalah kedekatan khusus kepada orang-orang yang beribadah kepada-Nya, dan kepada orang yang memohon dan berdoa kepada-Nya, dan itu merupakan buah ibadah dengan nama-Nya yang agung
  3. وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ }. Perhatikanlah ayat ini : { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ } hikmah dan makna yang indah yang tidak mungkin dihilangkan : – Ayat ini terletak di pertengahan ayat-ayat puasa, ayat ini mengajarkan akan pentingnya doa dan pengaruh yang ada padanya. – Amatilah kemuliaan ini yang Allah pakaikan kepadamu, yaitu ketika Dia menisbatkan hamba-Nya kepada diri-Nya yang Maha suci : { عِبَادِي } maka kebaikan apakah yang akan diraih oleh seorang hamba dari tuannya ? – Di dalam ayat ini terdapat beberapa kalimat yang mengandung makna yang agung, dan yang paling baik adalah kedekatan Allah kepadamu, maka apakah sesuatu yang paling agung yang kamu sangkakan selain dari kedekatan yang agung itu ? maka hendaklah kamu menyelam lebih dalam, niscaya kamu akan menemukan mutiara yang lebih banyak.
  4. { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ } , { فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ } “karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)” [ Hud : 61 ], alangkah dekatnya Allah ! tidak satupun perantara yang membatasi antara kita dengan-Nya, tiada batas waktu yang akan menghalang, dan tidak pula antrian yang menunggu, serta lorong yang memotong.
  5. ). Khalid bin al-rob’i pernah berkata : aku takjub dengan umat ini ! Allah memerintahkan mereka untuk berdoa dan Dia pula yang menjanjikan ijabah, dan tiada diantara keduanya syarat. Kemudian beliau ditanya tentang hal ini? beliau berkata, ada perkara yang mengharuskan syarat, seperti firman Allah:{ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ } “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik” [al-Baqarah : 25] maka dalam hal ini ada syarat, yakni : kabar gembira itu bersyarat keimanan dan amalan shalih, kemudian firman Allah : { فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ } “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” [Gafir : 14] di ayat ini ada syarat, sedangkan firman Allah : { ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ } “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu” tidak ada syarat.
  6. Sebagian salaf mengatakan : Kapan Allah membawa lisan mu untuk berdoa kepada-Nya, ketahuilah bahwasanya Dia berkehendak untuk mengabulkan permintaanmu; hal itu dikarenakan kebenaran janjinya dengan mengabulkan permintaan siapa yang berdoa kepada-Nya, bukankah Allah telah berfirman: { فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ }.

dan masih banyak lagi penjelasan tafsir dar ayat di atas, dan bisa di baca selengkapnya disini

Namun pada intinya ayat diatas menjelaskan bahwa Allah swt menyuruh para hambanya agar senantiasa beribadah kepadanya (memenuhi segala perintahnya) yakni dengan cara berdoa kepadanya, dan Allah swt senantiasa mengabulkan doa hamba-hambanya, akan tetapi dengan syarat mereka semua patuh dan tunduk terhadap perintah-perintah Allah swt dan mempertahankan iman dalam diri mereka, Karena hal itu merupakan sarana yang paling ampuh bagi terkabul nya doa mereka.

Mudah-mudahan kita semua senantiasa diistiqomahkan dalam beribadah dan menjalankan perintah-perintahnya juga menjauhi larangan-Nya, dan di istijabahkan doanya serta di terima semua amalan nya. Aamiin allahumma aamiin. Syukron dan jazaakumullah khair..

By: Ust. Ibnu Roab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button