MotivasiNasihat Kehidupan

Rezeki Seret Karena Suka Buat Maksiat

Rezeki Seret Karena Suka Buat Maksiat

عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله وعليه و سلم لا يزيد في العمر الا البر, ولا يرد القدر الا الدعاء, و ان الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه (رواه ابن ماجه)

Dari Tsauban dia berkata, : “Rasulullah bersabda : “Tidaklah akan bertambah umur seseorang kecuali dengan kebaikan, dan tidaklah akan menolak takdir kecuali doa. Sesungguhnya seseorang akan ditahan rezekinya karena dosa yang ia lakukan”. (H.R Ibnu Majah)

-Rezeki seret karena suka buat maksiat (dosa).

“Eh, Tapi coba perhatiin geh para artis-artis itu atau banyaklah orang-orang yang tiap harinya maksiat tapi tetap aja kaya raya, penghasilannya besar bahkan milyaran”. Banyak orang yang akan bertanya akan hal yang saru ini.

Gini, kalau kita berpikiran rezeki itu hanya uang, kita akan salah besar. Rezeki itu bukan semata-mata hanya uang tapi punya teman yang shaleh, keluarga yang bahagia, anak-anak yang sehat dan juga batin yang damai, itu juga rezeki. Coba perhatikan para artis itu, orang-orang kaya atau siapalah itu yang kaya raya tapi suka maksiat. Melimpah hartanya, mobil banyak, rumah besar tapi belum tentu keluarganya bahagia, belum tentu tubuhnya sehat-sehat bahkan bisa jadi bathinnya yang tersiksa karena banyak masalah atau jadi teror orang-orang jahat yang ingin mencuri kekayaannya. Nah, kemudian jika ada pemaksiat yang kaya, lalu bahagia tidak memiliki masalah dan lain-lain. Sedangkan kita seorang muslim yang taat ibadah tapi miskin,kita tidak boleh iri dalam masalah ini, karena itu bisa jadi juga istidraj.

Apa itu istidraj ?

Istidraj itu adalah azab yang berbentuk kenikmatan.

Sebuah permisalan, orang yang suka maksiat tapi hidupnya damai-damai aja. Sebab Allah ingin menabung hukumannya kelak di akhirat nanti, maka dari itu Allah buat ia senang di dunia namun sengsara di akhirat.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan, “Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau memperdulikan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan”.

Ada sebuah kisah atau cerita yang di abadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an yaitu sepenggal ayat kisah istidraj di ambil dari surat Al-Qolam yang di dalamnya berisikan:

Kisah Pemilik Kebun yang Diberi Nikmat yang Sebenarnya Istidraj”.

Allah berfirman dalam surat Al-Qolam ayat 17-33 sebagai berikut:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ

“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)-nya di pagi hari,

وَلَا يَسْتَثْنُونَ

dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin),

فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ

lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur,

فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.

فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ

lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:

أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ

Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik.

أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِين

“Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.”

وَغَدَوْا عَلَى حَرْدٍ قَادِرِينَ

Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka (menolongnya).

فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ

Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan),

بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)

قَالَ أَوْسَطُهُمْ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ

Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)

قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

Mereka mengucapkan: “Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ

Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela.

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ

Mereka berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.”

عَسَى رَبُّنَا أَنْ يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِنْهَا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا رَاغِبُونَ

Mudah-mudahan Rabb kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.

كَذَلِكَ الْعَذَابُ وَلَعَذَابُ الْآَخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui. (QS. Al Qalam: 17-33).

-Sedikit penjelasan apa maksud dari ayat diatas

Menukil atau mengambil pendapat Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya. Syaikh As Sa’di rahimahullah menerangkan, “Kisah di atas menunjukkan bagaimanakah akhir keadaan orang-orang yang mendustakan kebaikan. Mereka telah diberi harta, anak, umur yang panjang serta berbagai nikmat yang mereka inginkan. Semua itu diberikan bukan karena mereka memang mulia. Namun diberikan sebagai bentuk istidraj tanpa mereka sadari”.

Terus gimana nih agar kita bisa berubah dan rezeki kita lancar?

Pertama, berniat untuk bertaubat dan yang paling utama untuk tidak mengulanginya lagi, setelah itu perbanyak amal saleh dan tambah ketakwaan. Allah juga telah berjanji pada hambanya yang senantiasa mau bertaubat dan bertakwa kepadanya dengan kelapangan rezeki. Ya, salah satunya ada di surat Ath-Thalaq ayat 2 dan 3 Allah berfirman yang artinya :

“…. Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangkanya. Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusanya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”.

Kemudian di surat Nuh ayat 10-12 yang dari pada intinya Allah akan memberikan banyak rezeki bagi orang yang mau bertaubat atau memohon ampun kepadanya. Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadist yang meyakinkan akan hal ini.

Semoga bermanfaat kelak bagi penulis dan pembaca.

By : IBNU THURAB

Thuadmin

Mahasiswa S1 INTERNASIONAL UNIVERSITY OF AFRIKA Asal : Padang Cermin, Pesawaran, Lampung TTL : 30 Desember 1999

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button