FiqihFiqih Kontemporer
Trending

Sekilas Tentang Pengertian Fikih Klasik

Sekilas Tentang Pengertian Fikih Klasik

Sebelum kita memasuki pada penjabaran terkait judul atau fikih klasik sebaiknya baca terlebih dahulu : Pengertian Fiqih Kontemporer
Sebagai alat untuk membantu mempermudah pembaca dalam memahami apa yang akan penulis beberkan pada penjelasan dibawah :

Fikih secara bahasa dan istilah sudah penulis jelaskan pada artikel sebelumnya yang berjudul :

Jadi sekiranya tidak perlu untuk di jelaskan lagi pada pertemuan kali ini.

Penulis akan langsung menuju point utama pembahasan kita yaitu pengertian fikih klasik :

Klasik menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) definesi klasik adalah :

  1. Sesuatu yang mempunyai nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolak ukur kesempurnaan yang abadi; tertinggi.
  2. Karya sastra yang bernilai tinggi serta langgeng
    dan sering dijadikan tolak ukur atau karya sastra zaman kuno yang nilai kekal.
  3. Bersifat seperti seni klasik yaitu sederhana, serasi dan tidak berlebihan.
  4. Termasyhur karena bersejarah.

Kemudian ketika kita mengaitkannya atau menyatukannya dengan makna dari pada fikih itu sendiri, lahirnya pengertian fikih klasik dibawah ini:

Esensi Fikih Klasik

Fikih Klasik adalah ilmu hukum yang berkembang pada awal lahirnya Islam yaitu periode kenabian dan muncul tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada zamannya tetapi juga untuk menyiapkan warisan yang begitu berharga yang akan terus bermanfaat demi untuk membangun dan memudahkan pemahaman
hukum dimasa depan.

Metode berfikir yang di gunakan oleh ulama klasik dahulu langsung terikat dan murni dengan isi al-Qur’an dan Hadits, sehingga banyak melahirkan ijtihad yang berkualitas dan berpengalaman.

Contoh Ijtihad Pada Era Kenabian

Adapun salah satu contoh ijtihad pada pada kenabian (klasik) seperti pada kasus penyesalan Umar ibn Khattab atas perbuatannya yang dianggap membatalkan puasa. Pada suatu hari Umar ibn Khattab memeluk dan mencium istrinya dalam keadaan berpuasa, Kemudian Umar ibn
Khattab menyampaikan hal tersebut kepada Nabi SAW seraya berkata: Sungguh aku telah melakukan perbuatan luar biasa (mencium istriku dalam kondisi puasa).
Nabi Muhammad SAW menjawab : Bagaimana jika engkau berkumur-kumur padahal engkau berpuasa? Lalu Umar menjawab dengan tegas: “Menurut pendapatku, tidak membatalkan puasa”. Kemudian Nabi SAW bersabda: “Teruskan puasamu.”

Keterangan atau keadaan di atas di abadikan oleh Imam Al-Darimi dalam kitab sunannya yakni Sunan Darimi sebagai berikut :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ هَشِشْتُ فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَجِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ إِنِّي صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْرًا عَظِيمًا قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ مَضْمَضْتَ مِنْ الْمَاءِ قُلْتُ إِذًا لَا يَضِيرُ قَالَ فَفِيمَ

Dari Jabir bin Abdullah dari Umar bin Al Khathab ia berkata, “Aku merasa berhasrat, lalu aku mencium (istriku) dalam keadaan berpuasa. Kemudian aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Sungguh, hari ini aku telah melakukan perkara yang besar, aku telah mencium dalam keadaan berpuasa! ” Beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu apabila engkau berkumur-kumur dengan air?” Aku menjawab, “Jika demikian hal itu tidak merusak puasa?” Kemudian Nabi SAW bersabda: Teruskan puasamu.
(Imam al-Darimi, Sunan al-Darimi, Juz II, Beirut: Dar al-Fikr, t. th. h. 13)

Dengan semakin berkembangnya zaman dan teknologi dari zaman kenabian (klasik), pertengahan hingga kini pada masa modern (kontemporer) fikih klasik perlahan-lahan dianggap mulai sulit untuk di pahami oleh masyarakat dan mulai terkesan kaku dan pasif, oleh karena itu para ulama di era modern atau ulama kontemporer mulai berijtihad demi kemaslahatan umat Islam yang bertujuan agar mempermudah masyarakat untuk memahami permasalahan baru yang muncul di era modern ini.

Perbedaan Fikih Klasik dan Fikih Kontemporer

Jika kita lihat akan nampak perbedaan antara ijtihad ulama klasik dengan ulama kontemporer:
Ulama klasik berijtihad langsung dari al-Quran dan hadits namun hanya pada masalah tertentu pada masanya yang membuat adanya perbedaan yang mencolok dengan masa kini sehingga di masa sekarang perlahan terlihat sangat pasif/kaku. sedangkan ulama fikih kontemporer berijtihad dengan adanya pemikiran baru yang menyesuaikan dengan keadaan kekinian dan juga menggunakan al-Quran dan hadits sebagai dasar hukum, pada masalah yang belum terjadi pada masa dulu (klasik/kenabian) dan akan terus berkembang.

Alhamdulillah penulis telah selesai menjelaskan sedikit tentang apa itu fikih klasik, semoga bermanfaat dan mudah-mudahan dapat di pahami dengan mudah oleh para pembaca. Aamiin ya rabbal alamin.

Baca juga : Janji Allah Dalam Al-Qur’an Kepada Orang-orang Beriman

By : Ibnu Thurab

Thuadmin

Mahasiswa S1 INTERNASIONAL UNIVERSITY OF AFRIKA Asal : Padang Cermin, Pesawaran, Lampung TTL : 30 Desember 1999

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button